What's wrong with us? Banyak hal yang harus kita benahi untuk membangun kemajuan bersama terutama dibidang keagamaan, agar semua sejalan dan berjalan seperti harapan, Semua tidak cukup dengan niat baik dan ilmu tetapi butuh kebersamaan, pemahaman dan penterjemahan yang nyata dalam mengatasi masalah. Ngelmu iku, kalakone kanthi laku. Untuk mencapai ngelmu, kita harus mampu, menelaah, mengolah hati dan pikiran dengan penghayatan, pemahaman yang luas dan mendalam, memaknai ilmu dengan baik, menterjemahkan dalam makna dan konteks yang tepat, tidak terpaku dalam teori harfiah, text book atau logika semata.
Proses meraih ngelmu dengan meraih ilmu sangat berbeda. Ngelmu hanya bisa diraih dengan cara dihayati, dijiwai dan dilakoni atau diamalkan. Berbeda dengan ilmu yang hanya dipelajari saja dalam teori tanpa diejawantahkan,atau tanpa diamalkan. Ngelmu bicara tentang konteks, sedangkan ilmu bicara tentang teks (teori). Dengan ngelmu, kita bisa menghayati, dan memaknai konteks dengan pengejawantahan yang benar, mampu mengenali apa yang terjadi, dan mengetahui apa yang harus dijalani. Ketika kita ingin memperbaiki rumah, maka kita harus mengetahui apa yang harus diperbaiki. Janganlah kita berpikir untuk memperindah rumah dulu dengan hiasan warna warni, tapi mulailah, dengan membuat bangunan rumah itu berdiri tegak dan kuat. Ketika tiang rumah yang rapuh, kurang tegak, maka tiang itu yang harus diperbaiki. Kita harus berpikir bagaimana cara memperbaiki tiang itu, agar bisa ditegakkan dengan baik, tanpa menimbulkan masalah yang lain atau mengganggu bagian yang lain.